Beranda blog

Kaji Masalah Buruh dan Imigran, Prodi Sosiologi Hadirkan Peneliti University Milano Italia

0

Tanjungpinang, (cMczone.com) – Menghadapi tantangan dan permasalahan yang terjadi dalam negeri, Program Studi Sosiologi Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang kembali menggelar Forum Grup Discusion (FGD).

Kali menghadirkan seorang peneliti Giacomo Tabacco, Phd dari University of Milano-Bicocca, Italia, untuk mengkaji permasalahan buruh dan imigran.

Hal tersebut disampaikan Ketua Jurusan Program Studi Sosiologi Umrah Marisa Elsera M.Si saat FGD berlangsung di Gedung Rapat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Kampus Dompak, Selasa (21/8/2018).

Marisa katakan, Permasalahan buruh dan imigran hari ini menjadi salah satu tantangan bagi keilmuan sosiologi untuk melakukan kajian yang strategis. Sebab, masalah buruh akan menyangkut kesejahteraan, Ucapnya.

Disamping menguraikan persoalan buruh yang ada di kepri, baik lokal dan asing. Kita juga membicarakan untuk upaya kerjasama pengembangan dalam riset dan pengabdian masyarakat.

“Yang pastinya kita harapkan kerjasama yang intens nantinya terjalin antara lembaga peneliti asal Italia ini dan bahkan kerjasama antar Universitas millioano dengan kampus kita UMRAH,”
kata Marisa yang merupakan dosen mudah itu.

Dikatakannya lagi, selain memberikan dampak positif bagi pengembangan bagi mahasiswa, diharapkan nantinya dapat menunjang akreditasi Prodi Sosiologi serta mutu keilmuan.

Senada dengan hal yang sama, Dinda Imelda sala seorang mahasiswa sosiologi mengatakan dengan kehadiran peneliti asal Italia tersebut memberikan wawasan dan pemahaman baru.

“Tapi yang tidak kalah penting, dengan adanya sinergi yang dijalin oleh Prodi Sosiologi ini, kami harapkan dapat memberikan akses jejaring untuk kami dapat melanjutkan studi ke Italia,” Ucap dinda.

Kegiatan FGD tersebut dihadiri sejumlah dosen sosiologi dan ilmu pemerintahan serta beberapa mahasiswa sosiologi

https://www.cmczone.com/kaji-masalah-buruh-dan-imigran-prodi-sosiologi-hadirkan-peneiliti-university-milano-italia/

Marisa Elsera Scholarship

0
Marisa Elsera Schoolarship

Marisa Elsera Scholarship

SISI LAIN LGBT, SUBKULTUR YANG DIANGGAP MENYIMPANG

0

SISI LAIN LGBT, SUBKULTUR YANG DIANGGAP MENYIMPANG

Marisa Elsera

Sosiolog UMRAH

 

Keberadaan LGBT (Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender) menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Harian Haluan 10 Januari 2018 pun memberitakan bahwa LGBT Sumbar terbesar di Indonesia. Keberadaan LGBT ini pada akhirnya memang tak bisa luput dari kontroversi. Bagaimana sebenarnya LGBT itu?

LGBT atau akronim dari Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender bukanlah fenomena baru di dunia. Eksistensi LGBT di Negara-negara dapat dilihat dari organisasi kaum LGBT yang mulai bermunculan. Berbagai pakar mencoba mengkaji LGBT melalui perspektif bidang ilmunya masing-masing, alhasil muncul pro dan kontra dalam memandang keberadaan LGBT ini. Sebagian pihak beranggapan bahwa LGBT bukan merupakan perilaku menyimpang, karena orientasi homoseksual bukanlah perilaku melainkan sebuah identitas. Nah, identitas diri itu bersifat normal berbeda dengan perilaku yang memang ada yang disebut positif dan negative. Sebagian lainnya beranggapan bahwa LGBT adalah perilaku menyimpang karena dianggap keluar dari norma dan nilai yang dianggap berwenang.

Tulisan ini tidak dibuat untuk mendukung gerakan apapun, baik LGBT atau gerakan menentang LGBT. Sebagai Sosiolog, saya berupaya untuk menjelaskan bagaimana sebenarnya fenomena LGBT yang ada di Sumbar dari kacamata yang agak berbeda dari orang kebanyakan. Kemunculan LGBT sudah menggejala. Hampir di setiap daerah ditemukan LGBT, tak terkecuali di Sumbar. Kendati Sumbar identik dengan Ranah Minang dimana menganut filosofi adat bersandikan syarak dan syarak bersandikan kitabullah, namun keberadaan LGBT tidak dapat ditepis.

Masyarakat Sumbar terbilang mampu bertoleransi antaretnis, terbukti dari banyak suku pendatang yang mendiami Sumbar. Namun ruang toleransi yang dimaksud umumnya masih belum bisa terbuka sepenuhnya bagi subkultur menyimpang seperti LGBT. Keberadaan LGBT di Sumbar selain belum dianggap “sah”, mereka juga masih mengalami diskriminasi dan ketidaksetaraan. Oleh sebab itu, tak mengherankan ketika LGBT di Sumbar berupaya untuk dapat diterima dan terintegrasi dengan masyarakat mayoritas.

Pemerintah Sumbar dan masyarakat pada umumnya mengidentifikasi LGBT sebagai jenis kelaminnya ketimbang gendernya. Implikasinya, masih ada diskriminasi terhadap LGBT untuk memperoleh pelayanan publik dasar sebagaimana dialami LGBT di Sumbar, seperti sulit diterima sebagai siswa di lembaga pendidikan formal dan bekerja sebagai karyawan.

Ditinjau dari kacamata Sosiologi, diskriminasi yang diterima oleh LGBT disebabkan oleh defisini penyimpangan statistikal, yakni penyimpangan yang didasarkan pada perilaku atau tindakan yang bertolak dari rata-rata atau perilaku yang bukan rata-rata. Pendekatan ini berasumsi bahwa sebagian besar masyarakat dianggap melakukan cara-cara yang “benar”. Oleh sebab itu pihak minoritas yang melakukan cara-cara diluar dari “kebenaran” mayoritas dianggap menyimpang. Hal inilah yang dialami LGBT sebagai pihak minoritas di Sumbar. Sebagai kelompok yang secara statistikal paling sedikit dibandingkan masyarakat heteroseksual, perilaku LGBT dianggap menyimpang dan perlu diberikan punishment terhadap perbuatan dan pilihan hidupnya.

Punishment yang diberikan oleh masyarakat Sumbar terhadap LGBT dapat berupa pelecehan secara verbal saat ingin memanfaatkan sarana dan prasarana publik. Informan mengalami tindak kekerasan dan pelecehan seksual secara verbal dan fisik khususnya LGBT yang berprofesi sebagai pelacur jalanan, mereka pernah dilempari sampah hingga air keras ketika berdiri di jalan. Berangkat dari pengalaman buruk itu, maka LGBT di Sumbar berupaya melakukan aktivitas sosial yang bertujuan untuk mempertunjukkan eksistensi dan kepedulian mereka pada isu sosial yang berkembang di masyarakat.

Tuntutan agar diterimanya subkultur menyimpang pada masyarakat Sumbar menjadi tantangan tersendiri. Perjuangan LGBT sebagai kelompok minoritas untuk mendapatkan pengakuan atas identitas mereka dari kelompok mayoritas membutuhkan usaha yang lebih besar. Pihak mayoritas menuduhkan bahwa akan terjadi gap atau pengkotakkan yang dapat mengganggu integrasi mayoritas dan minoritas. Mungkin tuduhan itu agak berlebihan apalagi jika terjadi pengabaian atas motivasi kelompok minoritas. Tuduhan yang seperti itu juga dialami oleh LGBT sebagai kelompok minoritas di Sumbar.

Kelompok LGBT yang ada di Sumbar memiliki keinginan untuk berintegrasi ke dalam masyarakat yang lebih besar dan dapat diterima sebagai anggota penuh masyarakat tersebut. Mereka kemudian mencari pengakuan yang lebih besar atas identitas kelompok mereka, bukan untuk menjadi terpisah melainkan untuk mendapatkan penerimaan atas perbedaan mereka.

 

LGBT merupakan salah satu kelompok rentan. Sebagai kelompok rentan maka keberadaannya sudah dijamin dalam UU No 39/1999 tentang Hak Azasi Manusia. Pasal 3 ayat (3) UU tersebut berbunyi ,”Setiap orang berhak atas perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia, tanpa diskriminasi” dan Pasal 5 ayat 3 menyatakan, “Setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya.” Namun sekalipun UU N0 39/1999 menjadi dasar hukum yang kuat bagi LGBT untuk memperoleh perlakuan yang adil dari Negara, nyatanya masih ada perbedaan perlakuan yang dialami LGBT.

Sampai disini, mungkin sebagian pembaca akan beranggapan bahwa penulis telah memihak kelompok LGBT. Sebab, bagaimana mungkin kelompok subkultur menyimpang perlu mendapatkan perlindungan? bagaimana mungkin LGBT yang tergolong subkultur menyimpang dianggap sebagai kelompok rentan?. Jawabannya tidak, penulis tidak memiliki tendensi terhadap LGBT, penulis hanya melihat fenomena LGBT dari angle yang berbeda. Tulisan ini tidak membahas tentang penerimaan atas perbuatan subkultur mereka, tapi tentang bagaimana mereka dapat diterima seperti masyarakat pada umumnya sehingga bisa berbaur seperti masyarakat biasa. Jadi, tulisan ini tidak membahas tentang pembenaran terhadap subkultur menyimpang.

 

Kendati keberadaan LGBT di Sumbar dikategorikan dalam kelompok minoritas. Artinya, secara kuantiatif LGBT masih sedikit dibandingkan masyarakat “normal”.Seperti halnya kaum minoritas lainnya, LGBT juga mengalami diskriminasi, eksploitasi, ketidak adilan serta ketidak setaraan. Padahal, setiap individu dijamin kebebasannya untuk melanjutkan hidup yang berbeda tanpa ada intervensi. Setiap individu bebas membentuk atau bergabung dalam berbagai perkumpulan.

Waria dan Dikotomi

Dikotomi manusia menjadi dua jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) dan dua jenis identitas gender( maskulin dan feminin) menyebabkan waria yang berjenis kelamin laki-laki tapi berjiwa dan naluri feminin tidak masuk ke dalam kategori manusia normal. Padahal, Ruth Benedict berpendapat bahwa tidak ada kriteria yang sahih (valid) mengenai tipe kepribadian “normal” dan “abnormal”. Suatu kepribadian dianggap normal apabila sesuai dengan tipe kepribadian yang dominan, sedangkan tipe kepribadian yang sama, apabila tidak sesuai dengan tipe kepribadian dominan akan dianggap “abnormal” atau menyimpang (deviant).  Pengkategorian “normal‟ dan “abnormal” merupakan upaya standarisasi nilai. Penetapan standar ini diraih dengan cara dominasi (kekerasan fisik) maupun hegemoni (persetujuan dengan dalih moral maupun intelektual). Standarisasi tidak pernah terlepas dari upaya pelembagaan atau institusionalisasi yang merujuk pada nilai-nilai yang dianggap memenuhi kualifikasi normalitas dari kepentingan gender, agama, kelas, dan juga etnisitas tertentu. Standarisasi tidak akan terbebas dari stigmatisasi. Padahal stigmatisasi tidak sekedar upaya memberi label, dalam proses stigmatisasi ada mekanisme inklusi dan eksklusi yang berarti terdapat pihak yang layak dianggap benar serta pada saat sama terdapat pihak lain yang pantas dikucilkan dan disingkirkan. Apabila standarisasi nilai itu dilegalkan dalam bentuk hukum atau undang-undang, maka yang terjadi adalah negara mempunyai pembenaran menghukum pihak lain yang dianggap abnormal, tidak konvensional, serta tersingkirkan. Dalam hal ini, diskriminasi Negara terhadap waria bisa dipahami sebagai bentuk eksklusi atau penyingkiran waria dari akses layanan publik dasar. Tindakan ini dibenarkan karena waria yang berperilaku feminin dan mempunyai preferensi seksual pada sesama jenis ditetapkan sebagai cacat sosial atau patologi sosial yang pantas dikucilkan atau disingkirkan. (*)

 

Pengumuman Penyerahan Lirs ke Jurusan

0

Sehubungan dengan berakhirnya masa penginputan LIRS, semua mahasiswa aktif Jurusan Sosiologi FISIP UMRAH diwajibkan mengumpulkan LIRS yang sudah ditandatangani dosen PA dan Ketua Jurusan Minggu Pertama Perkuliahan (Jumat, 8 September 2017)

Jadwal Sidang Skripsi Jurusan Sosiologi Kamis-Selasa (3-8 Agustus 2017)

0
NO NAMA MAHASISWA JUDUL UP/SKRIPSI PENELAAH HARI DAN TANGGAL JAM
1 NURMAYUNITA (2013) Eksistensi Warung Tuak di Kota Tanjungpinang 1.       Suryaningsih M.Si

2.       Marisa Elsera M.Si

3.       Tri Samnuzulsari,     MA

4.       Nanik Rahmawati, M.Si

5.       Emmy Solina, M.Si

Kamis, 3 Agustus 2017 10.00 WIB
2 Yovera Agtavia(2012) Perilaku Mengaku Miskin dalam Mengakses Bantuan Pemerintah di Desa Berapit Kecamatan Jemaja Kabupaten Anambas 1.       Nanik Rahmawati,M.Si

2.       Marisa Elsera M.Si

3.       Tri Samnuzulsari, MA

4.       Sri Wahyuni, M.Si

5.       Emmy Solina, M.Si

Kamis, 3 Agustus 2017 13.00 WIB
3 Vierlyandes (2012) Prostitusi Berkedok Panti Pijat di Kota Tanjungpinang 1.       Emmy Solina, M.Si

2.       Marisa Elsera, M.Si

3.       Nanik Rahmawati, M.Si

4.       Tri Samnuzulsari, MA

5.       Sri Wahyuni, M.Si

Jumat, 4 Agustus 2017 13.00 WIB
4 Afril Hadi (2012) Adaptasi Masyarakat Pemukiman Pelantar dalam Menghadapi Kesulitan Air Bersih di Kelurahan Tanjungunggat 1.       Nanik Rahmawati, M.Si

2.       Tri Samnuzulsari, MA

3.       Marisa Elsera, M.Si

4.       Suryaningsih, M.Si

5.       Sri Wahyuni, M.Si

Senin, 7 Agustus 2017 11.00 WIB
5 M. Yusuf Arrahman (2013) Keterlibatan Masyarakat dalam Wisata Berbasis Masyarakat di Pulau Abang Batam 1.       Nanik Rahmawati, M.Si

2.       Tri Samnuzulsari, MA

3.       Sri Wahyuni, M.S

4.       Suryaningsih, M.Si

5.       Marisa Elsera, M.Si

Senin, 7 Agustus 2017 13.00 WIB
6 Enni L (2010) Eksistensi Pedagang Kaki Lima di Tempat Hiburan Malam 1.       Suryaningsih, M.Si

2.       Nanik Rahmawati, M.Si

3.       Sri Wahyuni, M.Si

4.       Tr Samnuzulsari, MA

5.       Emmy Solina, M.Si

Selasa, 8 Agustus 2017 13.00

Sosiologi Update

Pengumuman